Metodologi

Penelitian R&D

Jawaban singkat

Penelitian R&D menghasilkan produk (misalnya modul, media, atau model pembelajaran) lalu menguji kelayakan, kepraktisan, dan efektivitasnya. Model yang paling sering dipakai di Indonesia adalah ADDIE (5 tahap), 4D dari Thiagarajan dkk. (4 tahap), dan Borg & Gall (10 langkah). Kelayakan dinilai validator ahli, kepraktisan dari respons pengguna, dan efektivitas dari uji coba, misalnya pretest-posttest.

Diperbarui 11 Oktober 2026Tim Metodologi
Daftar isi
  1. Ciri penelitian R&D
  2. Model yang paling sering dipakai
  3. Memilih model
  4. Tiga hal yang biasanya diukur
  5. Instrumen yang biasanya dipakai
  6. Kesalahan umum
  7. Pertanyaan umum

Kebanyakan penelitian menguji atau menggambarkan sesuatu yang sudah ada. Penelitian dan pengembangan (research and development, R&D) berbeda: tujuannya menghasilkan produk baru atau memperbaiki produk lama, lalu membuktikan bahwa produk itu layak dan bermanfaat. Produknya bisa berupa modul, e-modul, media pembelajaran, aplikasi, instrumen, atau model pelatihan.

Ciri penelitian R&D

  • Ada produk yang dihasilkan, bukan hanya kesimpulan.
  • Diawali analisis kebutuhan: masalah apa yang mau diselesaikan produk itu?
  • Produk divalidasi ahli sebelum diuji coba.
  • Produk direvisi berdasarkan masukan, lalu diuji lagi.
  • Hasil akhirnya produk yang sudah teruji, ditambah data kelayakan, kepraktisan, dan (sering) efektivitas.

Model yang paling sering dipakai

ModelTahapCocok untuk
ADDIEAnalysis, Design, Development, Implementation, EvaluationBahan ajar, media, dan pelatihan; paling fleksibel
4DDefine, Design, Develop, DisseminatePerangkat dan bahan ajar; sering dipakai di pendidikan
Borg & Gall10 langkah, dari pengumpulan informasi sampai diseminasiModel atau program yang perlu uji lapangan bertingkat; lebih cocok untuk tesis dan disertasi

Model 4D diperkenalkan Sivasailam Thiagarajan, Dorothy Semmel, dan Melvyn Semmel (1974) dalam buku tentang pengembangan pembelajaran untuk pelatihan guru anak berkebutuhan khusus, lalu meluas ke pendidikan umum. Model Borg dan Gall berasal dari buku penelitian pendidikan karya Walter Borg dan Meredith Gall, yang edisi tahun 1983-nya paling sering dikutip. ADDIE dibahas tersendiri di panduan model ADDIE.

Sepuluh langkah Borg & Gall secara ringkas

  1. Mengumpulkan informasi: kajian pustaka, pengamatan kelas, dan analisis kebutuhan.
  2. Merencanakan: tujuan, urutan kegiatan, dan uji kelayakan kecil.
  3. Mengembangkan bentuk awal produk.
  4. Uji lapangan awal pada kelompok kecil.
  5. Merevisi produk utama.
  6. Uji lapangan utama pada kelompok yang lebih besar.
  7. Merevisi produk operasional.
  8. Uji lapangan operasional dalam kondisi nyata.
  9. Merevisi produk akhir.
  10. Menyebarkan dan menerapkan produk.

Siklus lengkap ini panjang. Banyak skripsi berhenti di langkah 5 sampai 7 dan menuliskan batasan itu.

Memilih model

  • Waktu terbatas dan produknya bahan ajar: ADDIE atau 4D.
  • Perlu uji efektivitas yang kuat: pilih model yang tahap implementasinya mencakup uji coba dengan pretest-posttest, misalnya ADDIE.
  • Mengembangkan model atau program yang luas: Borg & Gall.
  • Pedoman prodi menetapkan model tertentu: ikuti pedoman itu.

Tiga hal yang biasanya diukur

AspekPertanyaanDataAnalisis yang umum
Kelayakan (validitas)Apakah produk benar menurut ahli?Lembar validasi ahli materi, media, dan bahasaPersentase kelayakan atau Aiken's V
KepraktisanApakah produk mudah dipakai?Angket respons guru dan siswaPersentase atau rata-rata skor, lalu kategori Likert
EfektivitasApakah produk meningkatkan hasil?Tes pretest dan posttestUji t berpasangan, N-Gain

Menghitung persentase kelayakan

P=skor yang diperolehskor maksimal×100%P = \frac{\text{skor yang diperoleh}}{\text{skor maksimal}} \times 100\%

Persentase itu lalu dikategorikan. Salah satu pedoman yang sering dipakai membagi 0–100% menjadi lima kelas sama lebar:

PersentaseKategori
81–100%Sangat layak
61–80%Layak
41–60%Cukup layak
21–40%Kurang layak
0–20%Tidak layak

Pedoman lain memakai batas yang berbeda, jadi sebutkan pedoman yang kamu pakai di Bab 3.

Contoh

Validator media menilai 15 butir dengan skala 1–5. Total skornya 63, sedangkan skor maksimalnya 15 × 5 = 75. P = 63 / 75 × 100% = 84%, sehingga media termasuk kategori sangat layak.

Instrumen yang biasanya dipakai

  • Pedoman wawancara atau angket analisis kebutuhan di tahap awal. Lihat pedoman wawancara.
  • Lembar validasi ahli, berisi butir-butir per aspek (isi, penyajian, bahasa, tampilan) dan kolom saran.
  • Angket respons pengguna untuk kepraktisan. Lihat cara membuat kuesioner.
  • Tes hasil belajar untuk efektivitas, yang juga perlu diuji validitas dan reliabilitasnya.

Kesalahan umum

  • Analisis kebutuhan hanya formalitas, padahal inilah dasar produk.
  • Saran validator tidak ditindaklanjuti atau tidak dilaporkan. Buat tabel "saran dan revisi".
  • Menyebut produk "efektif" hanya dari angket kepuasan. Efektivitas membutuhkan data hasil, misalnya tes.
  • Tahap yang tidak dilakukan tidak disebutkan sebagai batasan penelitian.

Lihat juga metode penelitian untuk membandingkan R&D dengan desain lain, dan penelitian eksperimen untuk desain uji efektivitasnya.

Pertanyaan umum

Apakah R&D termasuk kuantitatif atau kualitatif?

R&D adalah pendekatan tersendiri yang biasanya memakai metode campuran: data kualitatif dari analisis kebutuhan dan saran validator, serta data kuantitatif dari skor validasi, angket respons, dan tes.

Apakah semua tahap model harus dilakukan?

Idealnya ya. Di skripsi, tahap penyebaran (dissemination) atau uji lapangan luas sering dibatasi karena waktu dan biaya. Itu boleh asalkan batasannya ditulis jelas di Bab 1 dan Bab 3, beserta alasannya.

Berapa jumlah validator ahli?

Umumnya 2–3 validator untuk setiap aspek (materi, media, bahasa). Bila memakai Aiken's V, jumlah validator menentukan batas V minimal yang dianggap valid.

Panduan terkait