Daftar isi
Pedoman wawancara adalah panduan pertanyaan yang dipakai peneliti saat mewawancarai informan. Dalam penelitian kualitatif, wawancara biasanya semi-terstruktur: ada pertanyaan utama yang disiapkan, tetapi urutan dan pertanyaan lanjutannya mengikuti jawaban informan.
Dari fokus penelitian ke pertanyaan
- Mulai dari rumusan masalah atau fokus penelitian. Misalnya: bagaimana strategi guru dalam pembelajaran berdiferensiasi?
- Pecah menjadi beberapa subfokus, misalnya perencanaan, pelaksanaan, penilaian, serta kendala dan cara mengatasinya.
- Tulis satu atau dua pertanyaan utama yang terbuka untuk setiap subfokus.
- Siapkan pertanyaan pendalaman (probing) untuk menggali contoh, alasan, dan perasaan.
- Sesuaikan untuk setiap jenis informan, misalnya guru, kepala sekolah, dan siswa, karena sudut pandang mereka berbeda.
Contoh pedoman wawancara
Fokus: strategi guru dalam pembelajaran berdiferensiasi (informan: guru)
| Subfokus | Pertanyaan utama | Pertanyaan pendalaman |
|---|---|---|
| Perencanaan | Bagaimana Bapak/Ibu merencanakan pembelajaran untuk siswa yang kemampuannya berbeda-beda? | Bisa ceritakan contoh di satu materi? Dari mana Bapak/Ibu mengetahui kebutuhan tiap siswa? |
| Pelaksanaan | Apa yang Bapak/Ibu lakukan di kelas supaya setiap siswa bisa mengikuti pelajaran? | Bagaimana tanggapan siswa? Apa yang paling berhasil menurut Bapak/Ibu? |
| Penilaian | Bagaimana cara menilai hasil belajar siswa yang tugasnya berbeda? | Apa kesulitannya? |
| Kendala | Apa tantangan terbesar dalam menerapkannya? | Bagaimana cara mengatasinya? Dukungan apa yang dibutuhkan? |
Jenis pertanyaan yang berguna
- Pengalaman: "Bisa ceritakan apa yang terjadi saat ...?"
- Pendapat: "Menurut Bapak/Ibu, mengapa ...?"
- Perasaan: "Bagaimana perasaan Anda ketika ...?"
- Pengetahuan: "Apa yang Anda ketahui tentang ...?"
- Latar belakang: sudah berapa lama menjabat, mengajar, atau terlibat.
Pertanyaan pendalaman yang sederhana sering paling efektif: "Bisa diberi contoh?", "Maksudnya bagaimana?", "Lalu apa yang terjadi?"
Tips saat wawancara
- Mulai dengan pertanyaan ringan untuk membangun suasana, misalnya latar belakang informan.
- Ajukan satu pertanyaan sekali waktu, lalu beri jeda. Diam sejenak sering membuat informan menambahkan cerita.
- Hindari pertanyaan yang mengarahkan, seperti "Pasti metode ini berhasil, ya?"
- Dengarkan lebih banyak daripada berbicara, dan jangan menilai jawaban informan.
- Catat hal yang tidak terekam: suasana, ekspresi, dan kejadian di sekitar wawancara.
Etika, rekaman, dan transkrip
Buat transkrip secepatnya setelah wawancara selagi ingatan masih segar. Transkrip verbatim (kata per kata) memudahkan analisis dan pengutipan di Bab 4. Simpan rekaman dan transkrip dengan aman. Langkah berikutnya ada di analisis data kualitatif.
Kesalahan umum
- Pertanyaan tertutup yang hanya dijawab "ya" atau "tidak".
- Pedoman terlalu panjang, sehingga tidak ada waktu untuk mendalami jawaban.
- Pertanyaan tidak berhubungan dengan fokus penelitian.
- Membacakan pedoman seperti kuesioner, tanpa pertanyaan pendalaman.
- Tidak meminta izin merekam, atau mencantumkan nama informan tanpa izin.
Pertanyaan umum
Berapa jumlah pertanyaan dalam pedoman wawancara?
Cukup sedikit pertanyaan utama yang terbuka, masing-masing dengan beberapa pertanyaan pendalaman. Pedoman yang terlalu panjang membuat wawancara terasa seperti interogasi dan jawaban jadi dangkal.
Apakah pedoman wawancara perlu divalidasi?
Banyak prodi meminta pedoman wawancara diperiksa dosen pembimbing atau ahli sebelum dipakai. Uji coba dengan satu orang di luar informan juga membantu menemukan pertanyaan yang membingungkan.
Bolehkah wawancara lewat WhatsApp atau video call?
Boleh, asalkan informan setuju dan kualitas percakapannya memadai. Tuliskan media wawancaranya di Bab 3. Wawancara tatap muka biasanya lebih kaya karena peneliti bisa mengamati suasana dan bahasa tubuh.