Daftar isi
Fenomenologi adalah pendekatan penelitian kualitatif yang menggali makna pengalaman hidup (lived experience) dari orang-orang yang mengalami suatu fenomena yang sama. Pertanyaan khasnya: seperti apa rasanya mengalami hal ini, dan apa maknanya bagi mereka?
Contohnya pengalaman mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, pengalaman guru honorer bertahan bertahun-tahun, atau pengalaman orang tua mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar di rumah.
Asal-usul singkat
Fenomenologi berakar dari filsafat Edmund Husserl pada awal abad ke-20, yang mengajak kembali "kepada hal-hal itu sendiri", yaitu memahami sesuatu sebagaimana ia dialami, sebelum ditafsirkan dengan teori. Dari gagasan itu lahir beberapa cara meneliti, antara lain fenomenologi deskriptif yang dirumuskan Clark Moustakas (1994) dan fenomenologi hermeneutik yang dikembangkan Max van Manen (1990). Dalam psikologi, pendekatan yang populer adalah interpretative phenomenological analysis (IPA) yang diperkenalkan Jonathan Smith (1996).
Untuk skripsi, yang terpenting adalah memilih satu cara dan mengikutinya secara konsisten.
Ciri penelitian fenomenologi
- Berfokus pada satu fenomena yang dialami semua partisipan.
- Partisipan dipilih karena mengalami langsung fenomena itu (purposive).
- Data utama berupa wawancara mendalam yang membiarkan partisipan bercerita panjang.
- Peneliti menuliskan prasangka dan pengalamannya sendiri lebih dulu (bracketing atau epoche), supaya cerita partisipan tidak tertutup oleh pendapat peneliti.
- Hasil akhirnya adalah esensi: gambaran inti pengalaman yang dimiliki bersama oleh para partisipan.
Memilih partisipan
Partisipan dipilih dengan purposive sampling berdasarkan kriteria yang memastikan mereka mengalami fenomenanya. Misalnya: mahasiswa aktif S1 yang bekerja minimal 20 jam per minggu selama lebih dari satu semester. Jumlahnya kecil karena tujuannya kedalaman, dan wawancara dihentikan saat cerita baru tidak lagi memunculkan tema baru. Penjelasan lebih lengkap ada di informan penelitian.
Mengumpulkan data
Wawancara fenomenologi memakai pertanyaan terbuka yang sedikit dan luas, lalu digali dengan pertanyaan lanjutan. Dua pertanyaan inti yang sering dipakai:
- Apa yang kamu alami terkait fenomena ini?
- Situasi atau keadaan apa yang memengaruhi pengalaman itu?
Rekam wawancara dengan izin, lalu buat transkrip kata demi kata. Contoh menyusun pertanyaan ada di pedoman wawancara. Catatan lapangan, jurnal reflektif peneliti, dan dokumen pribadi partisipan bisa melengkapi.
Langkah analisis data
Salah satu urutan yang paling sering dipakai di skripsi diusulkan Paul Colaizzi (1978):
- Baca seluruh transkrip berulang kali untuk menangkap gambaran utuhnya.
- Tandai pernyataan penting yang langsung berkaitan dengan fenomena.
- Rumuskan makna dari setiap pernyataan penting.
- Kelompokkan makna-makna itu menjadi tema, lalu kelompok tema.
- Tulis deskripsi lengkap tentang fenomena berdasarkan tema-tema tersebut.
- Rumuskan struktur dasar atau esensi fenomena dalam uraian yang ringkas.
- Kembalikan hasilnya kepada partisipan untuk dikonfirmasi (member checking).
Moustakas (1994) memakai alur yang mirip: horizonalization (semua pernyataan dianggap sama penting di awal), pengelompokan menjadi unit makna dan tema, deskripsi tekstural (apa yang dialami), deskripsi struktural (bagaimana pengalaman itu terjadi), lalu penggabungan keduanya menjadi esensi. Langkah umum analisis kualitatif lainnya ada di analisis data kualitatif.
Contoh judul dan rumusan masalah
Contoh
Judul: Pengalaman Mahasiswa Bekerja Paruh Waktu dalam Menjalani Perkuliahan: Studi Fenomenologi pada Mahasiswa Universitas X
Rumusan masalah:
- Bagaimana pengalaman mahasiswa bekerja paruh waktu dalam menjalani perkuliahan?
- Bagaimana mahasiswa memaknai peran ganda sebagai pekerja dan mahasiswa?
Perhatikan bahwa rumusan masalahnya bertanya tentang pengalaman dan makna, bukan tentang pengaruh atau hubungan antarvariabel.
Menjaga keabsahan data
Gunakan triangulasi sumber atau metode, member checking, deskripsi yang kaya agar pembaca bisa menilai kesesuaiannya dengan konteks lain, dan jejak audit berupa transkrip serta catatan analisis. Kriteria lengkapnya dibahas di penelitian kualitatif.
Kesalahan umum
- Menyebut penelitian "fenomenologi" padahal yang diteliti adalah proses atau program, bukan pengalaman. Untuk itu, studi kasus lebih tepat.
- Memilih partisipan yang tidak mengalami fenomenanya secara langsung.
- Pertanyaan wawancara terlalu tertutup sehingga jawabannya pendek.
- Langsung menafsirkan dengan teori sebelum cerita partisipan dipahami apa adanya.
- Tema hanya berupa daftar topik, tanpa kutipan partisipan yang mendukungnya.
Pertanyaan umum
Berapa jumlah partisipan penelitian fenomenologi?
Tidak ada rumus. Karena yang dicari adalah kedalaman pengalaman, jumlahnya umumnya kecil, sering sekitar 5 sampai 15 orang, dan bisa lebih sedikit untuk analisis yang sangat mendalam. Yang penting semua partisipan benar-benar mengalami fenomenanya dan wawancara dihentikan saat tema-tema sudah jenuh.
Apa beda fenomenologi dan studi kasus?
Fenomenologi berfokus pada makna sebuah pengalaman yang dialami banyak orang, misalnya pengalaman menjadi guru honorer. Studi kasus berfokus pada satu kasus yang dibatasi, misalnya satu sekolah atau satu program, dan mempelajarinya dari berbagai sumber data.
Apakah peneliti boleh punya pengalaman yang sama dengan partisipan?
Boleh, tetapi peneliti perlu menyadari dan menuliskan prasangka serta pengalamannya sendiri (bracketing atau epoche) supaya tidak memaksakannya ke dalam cerita partisipan.