Daftar isi
Informan penelitian adalah orang yang memberikan informasi tentang fenomena yang diteliti dalam penelitian kualitatif, karena ia mengalami, terlibat langsung, atau memahami fenomena tersebut. Berbeda dengan responden survei yang menjawab pilihan yang sudah tersedia, informan bercerita, menjelaskan, dan sering menunjukkan hal-hal yang belum terpikir oleh peneliti.
Jenis informan
Dalam skripsi di Indonesia, informan sering dibagi menjadi tiga peran:
| Jenis | Siapa | Contoh (penelitian tentang penerapan kurikulum di sekolah) |
|---|---|---|
| Informan kunci | Orang yang paling memahami keseluruhan fenomena dan sering membuka akses ke informan lain | Wakil kepala sekolah bidang kurikulum |
| Informan utama | Orang yang terlibat langsung dan mengalami fenomena | Guru yang menerapkan kurikulum |
| Informan pendukung | Orang yang memberi informasi tambahan untuk melengkapi atau mengecek | Siswa, orang tua, pengawas sekolah |
Pembagian ini tidak wajib, tetapi membantu menunjukkan bahwa informasi dikumpulkan dari beberapa sudut pandang, yang juga berguna untuk triangulasi sumber.
Kriteria memilih informan
Informan dipilih dengan sengaja, bukan diacak. Kriteria yang baik menjelaskan mengapa orang itu bisa menjawab pertanyaan penelitian, misalnya:
- Terlibat langsung dalam fenomena dalam waktu yang cukup, misalnya minimal satu tahun.
- Masih aktif dalam situasi yang diteliti, sehingga ingatannya segar.
- Bersedia diwawancarai dan punya waktu yang cukup.
- Mampu menceritakan pengalamannya, bukan hanya menjawab "ya" atau "tidak".
Teknik memilih informan
- Purposive sampling: informan dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan sejak awal. Ini teknik yang paling umum.
- Snowball sampling: informan pertama merekomendasikan informan berikutnya. Cocok bila populasinya sulit dijangkau atau tidak punya daftar, misalnya pelaku usaha informal atau komunitas tertentu.
Dalam praktik, keduanya sering digabung: informan kunci dipilih secara purposive, lalu ia menunjukkan informan utama yang tepat.
Menentukan jumlah informan
Jumlah informan ditentukan oleh kejenuhan data (saturation): pengumpulan data dihentikan ketika wawancara baru tidak lagi menghasilkan informasi atau tema baru. Gagasan ini berasal dari Barney Glaser dan Anselm Strauss (1967) dalam pengembangan grounded theory, dan kini dipakai luas dalam penelitian kualitatif.
Agar kejenuhan bisa ditunjukkan, catat tema yang muncul dari setiap wawancara. Bila dua atau tiga wawancara terakhir hanya mengulang tema yang sudah ada, itu tanda data mulai jenuh. Tuliskan proses ini di Bab 3.
Jangan tertukar dengan sampel jenuh pada penelitian kuantitatif, yang berarti seluruh populasi dijadikan sampel.
Etika terhadap informan
- Jelaskan tujuan penelitian dan cara data akan dipakai, lalu minta persetujuan.
- Minta izin sebelum merekam, dan beri kesempatan menolak menjawab pertanyaan tertentu.
- Lindungi identitas dengan kode atau nama samaran bila perlu.
- Kembalikan ringkasan hasil wawancara untuk dikonfirmasi (member checking).
Contoh kalimat Bab 3
Informan penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria: (1) guru yang telah menerapkan kurikulum … minimal satu tahun, dan (2) bersedia diwawancarai. Informan terdiri atas wakil kepala sekolah bidang kurikulum sebagai informan kunci, empat guru sebagai informan utama, serta dua siswa sebagai informan pendukung. Wawancara dihentikan setelah tidak ditemukan informasi baru (kejenuhan data).
Sesuaikan jumlah dan perannya dengan penelitianmu. Panduan menyusun pertanyaan ada di pedoman wawancara, dan cara mengolah hasilnya di analisis data kualitatif.
Pertanyaan umum
Apa beda informan dan responden?
Responden menjawab pertanyaan yang sama dengan pilihan yang sudah ditentukan, biasanya pada survei kuantitatif. Informan bercerita dan menjelaskan secara mendalam, dan pertanyaan kepada setiap informan bisa berkembang sesuai jawabannya.
Berapa jumlah informan minimal?
Tidak ada jumlah minimal yang baku. Jumlahnya cukup bila wawancara baru tidak lagi memunculkan informasi atau tema baru (kejenuhan data). Dalam praktik skripsi, jumlah informan sering antara 3 dan 15 orang, tergantung luas fokus dan desain penelitian.
Apakah nama informan harus ditulis?
Tidak harus. Banyak penelitian memakai kode atau nama samaran (mis. Informan 1 atau Guru A) untuk melindungi identitas, terutama bila topiknya sensitif. Jabatan atau peran tetap boleh disebut bila diperlukan dan disetujui informan.