Metodologi

Studi Kasus

Jawaban singkat

Studi kasus adalah desain penelitian yang mendalami satu atau beberapa kasus (orang, kelompok, organisasi, program, atau peristiwa) secara menyeluruh dalam konteks nyatanya. Cocok untuk pertanyaan 'bagaimana' dan 'mengapa', memakai banyak sumber data seperti wawancara, observasi, dan dokumen, dan umumnya termasuk penelitian kualitatif.

Diperbarui 11 Oktober 2026Tim Metodologi
Daftar isi
  1. Kapan studi kasus tepat dipakai
  2. Jenis studi kasus
  3. Langkah penelitian studi kasus
  4. Contoh judul dan rumusan masalah
  5. Kelebihan dan keterbatasan
  6. Pertanyaan umum

Studi kasus adalah desain penelitian yang mendalami satu atau beberapa kasus secara menyeluruh dalam konteks nyatanya. Kasus bisa berupa seorang individu, kelompok, sekolah, perusahaan, program, kebijakan, atau peristiwa. Yang membedakannya dari desain lain adalah kedalaman: peneliti berusaha memahami kasus dari banyak sisi, bukan mengukur sedikit variabel pada banyak orang.

Kapan studi kasus tepat dipakai

  • Pertanyaan penelitiannya "bagaimana" atau "mengapa", misalnya bagaimana sekolah X menerapkan pembelajaran berdiferensiasi?
  • Fenomenanya terjadi saat ini dan tidak bisa dikendalikan peneliti.
  • Batas antara fenomena dan konteksnya tidak tegas, sehingga konteks harus ikut dipelajari.
  • Kasusnya unik, khas, atau menarik untuk dipahami lebih dalam.

Bila pertanyaannya "seberapa besar pengaruh X terhadap Y pada populasi", desain survei kuantitatif biasanya lebih tepat. Pakai pemilih metode penelitian bila ragu.

Jenis studi kasus

JenisPenjelasanContoh fokus
Tunggal (single case)Satu kasus didalamiStrategi pemasaran satu UMKM
Ganda (multiple case)Beberapa kasus dibandingkanPenerapan kurikulum di tiga sekolah
Intrinsik (Stake)Kasusnya sendiri yang menarikPengalaman satu siswa disleksia
Instrumental (Stake)Kasus dipakai untuk memahami isu yang lebih luasSatu desa untuk memahami pemberdayaan ekonomi
Eksplanatori, eksploratori, deskriptif (Yin)Menjelaskan sebab, menjajaki fenomena baru, atau menggambarkan kasus secara rinciSebab gagalnya sebuah program

Langkah penelitian studi kasus

  1. Rumuskan pertanyaan penelitian "bagaimana" atau "mengapa" dan fokus penelitiannya.
  2. Tentukan dan batasi kasus: siapa atau apa kasusnya, di mana, dan dalam periode apa.
  3. Pilih informan secara purposive: orang yang paling memahami kasus, misalnya pelaku utama, pengelola, dan pihak terdampak.
  4. Kumpulkan data dari banyak sumber: wawancara mendalam, observasi, dan dokumen. Lihat teknik pengumpulan data.
  5. Analisis data: reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, atau analisis tematik. Untuk studi kasus ganda, bandingkan antarkasus. Lihat teknik analisis data.
  6. Uji keabsahan data: triangulasi sumber dan teknik, pengecekan ulang ke informan (member check), dan uraian rinci.
  7. Tulis laporan yang menggambarkan kasus dan konteksnya secara rinci, lalu jawab rumusan masalah.

Contoh judul dan rumusan masalah

Contoh

Judul: Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Literasi Siswa (Studi Kasus di SD Negeri X)

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana strategi kepala sekolah dalam meningkatkan literasi siswa di SD Negeri X?
  2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat strategi tersebut?

Data: wawancara dengan kepala sekolah, guru, dan pustakawan; observasi kegiatan literasi; dokumen program sekolah.

Kelebihan dan keterbatasan

  • Kelebihan: pemahaman yang dalam dan kaya konteks, bisa menangkap proses dan alasan, cocok untuk fenomena yang kompleks.
  • Keterbatasan: tidak bisa digeneralisasi secara statistik, rawan subjektivitas peneliti bila keabsahan data tidak dijaga, dan butuh waktu lapangan yang cukup.

Pertanyaan umum

Apakah studi kasus selalu kualitatif?

Umumnya kualitatif, tetapi tidak selalu. Yin (2018) menjelaskan bahwa studi kasus bisa memakai data kualitatif maupun kuantitatif. Di skripsi Indonesia, studi kasus paling sering dipakai dalam pendekatan kualitatif.

Berapa jumlah informan dalam studi kasus?

Tidak ditentukan dengan rumus. Informan dipilih secara purposive karena paling memahami kasusnya, lalu ditambah sampai data jenuh, yaitu ketika informasi baru tidak lagi memberi pemahaman baru.

Bisakah hasil studi kasus digeneralisasi?

Tidak secara statistik ke populasi. Studi kasus menghasilkan pemahaman mendalam yang bisa diperluas ke teori (generalisasi analitis) atau dipakai pembaca untuk menilai kesesuaiannya dengan konteks lain.