Daftar isi
Systematic sampling (sampling sistematis) memilih sampel dari daftar populasi dengan jarak yang tetap, dimulai dari titik awal yang dipilih acak. Teknik ini termasuk probability sampling, setara dengan simple random sampling tetapi lebih praktis bila daftarnya panjang atau bila pemilihan dilakukan langsung di lapangan, misalnya setiap pengunjung ke-10.
Posisinya di antara teknik lain dibahas di teknik sampling.
Langkah
- Siapkan kerangka sampel: daftar lengkap anggota populasi yang diberi nomor 1 sampai N.
- Tentukan jumlah sampel n, misalnya dengan rumus Slovin atau cara menentukan jumlah sampel.
- Hitung interval .
- Pilih titik awal r secara acak antara 1 dan k (undian atau =RANDBETWEEN(1;k) di Excel).
- Ambil anggota bernomor r, r + k, r + 2k, dan seterusnya sampai n anggota.
Contoh
120 siswa dari 600 siswa
- .
- Titik awal diundi dari 1–5, misalnya r = 3.
- Sampel: nomor 3, 8, 13, 18, …, sampai nomor 3 + 5 × 119 = 598.
Totalnya tepat 120 siswa.
Bila N/n tidak bulat
150 karyawan dari 640 karyawan
. Membulatkan k menjadi 4 akan menghasilkan 160 anggota, sedangkan 5 hanya 128. Cara yang tepat adalah interval pecahan:
- Pilih titik awal acak antara 0 dan 4,2667, misalnya 2,5.
- Nomor sampel ke-i = bulatkan ke atas .
- Hasilnya nomor 3, 7, 12, 16, 20, …, dan yang ke-150 adalah nomor 639.
Membuat daftarnya di Excel
Untuk contoh pertama, tulis titik awal di sel B1 (3) dan interval di B2 (5). Di sel A5 ketik lalu salin ke bawah sampai 120 baris:
=$B$1+(ROW()-ROW($A$5))*$B$2
Untuk interval pecahan, isi B1 dengan =RAND()*B2 sekali saja (lalu salin dan tempel sebagai nilai supaya tidak berubah), dan B2 dengan =640/150. Rumus barisnya:
=ROUNDUP($B$1+(ROW()-ROW($A$5))*$B$2;0)
Pemisah argumen di atas memakai titik koma, seperti Excel dengan pengaturan Indonesia. Cocokkan nomor yang keluar dengan daftar populasi memakai VLOOKUP atau XLOOKUP.
Kelebihan dan risikonya
| Kelebihan | Risiko |
|---|---|
| Mudah dan cepat, cukup satu angka acak | Pola berulang: bila daftar punya siklus yang sama dengan k, sampel menjadi bias |
| Sampel tersebar merata di sepanjang daftar | Butuh daftar populasi yang lengkap |
| Bisa dipakai di lapangan tanpa daftar (setiap orang ke-k) | Urutan daftar yang mengikuti variabel penelitian membuat hasil bergantung titik awal |
Contoh pola berulang: daftar 10 kelas yang masing-masing berisi 30 siswa dan selalu diawali ketua kelas. Dengan k = 30, semua anggota sampel bisa jadi ketua kelas. Atasi dengan mengacak urutan daftar dulu, atau memakai stratified random sampling per kelas.
Kalimat untuk Bab 3
Sampel diambil dengan teknik systematic random sampling. Dari daftar [600 siswa] yang diurutkan [menurut abjad], ditetapkan interval k = [600/120 = 5] dan titik awal [3] yang diperoleh secara acak, sehingga anggota sampel adalah siswa bernomor [3, 8, 13, dan seterusnya] hingga berjumlah [120 siswa].
Kesalahan umum
- Titik awal tidak diacak, misalnya selalu mulai dari nomor 1.
- Interval dibulatkan begitu saja, sehingga jumlah sampel tidak sesuai rencana.
- Mengambil setiap orang ke-k yang lewat tanpa aturan yang konsisten di lapangan, sehingga sebenarnya menjadi accidental sampling.
- Tidak menyebut urutan daftar di Bab 3.
Pertanyaan umum
Apakah systematic sampling termasuk probability sampling?
Ya, asalkan titik awalnya dipilih secara acak dan urutan daftar tidak punya pola yang berulang dengan jarak yang sama dengan interval. Setiap anggota populasi punya peluang 1/k untuk terpilih.
Bagaimana bila N dibagi n tidak bulat?
Pakai interval pecahan: pilih titik awal acak antara 0 dan k, lalu bulatkan ke atas setiap nilai titik awal + (i − 1) × k. Cara ini menghasilkan tepat n anggota dan semua anggota tetap berpeluang sama.
Daftar populasinya diurutkan menurut abjad. Apakah boleh?
Boleh, karena urutan abjad biasanya tidak berkaitan dengan variabel yang diteliti. Yang perlu dihindari adalah daftar yang punya siklus, misalnya daftar per kelas yang selalu diawali ketua kelas.