Metodologi

Accidental Sampling

Jawaban singkat

Accidental sampling (incidental atau convenience sampling) memilih responden yang kebetulan ditemui dan bersedia, asalkan termasuk populasi. Teknik ini termasuk non-probability sampling: mudah dan murah, tetapi hasilnya kurang kuat untuk digeneralisasi karena tidak setiap anggota populasi punya peluang yang sama. Kurangi biasnya dengan kriteria yang jelas, pertanyaan penyaring, dan lokasi atau waktu yang beragam.

Diperbarui 12 Oktober 2026Tim Metodologi
Daftar isi
  1. Kapan accidental sampling masih bisa diterima
  2. Bias yang perlu diwaspadai
  3. Cara mengurangi biasnya
  4. Contoh kalimat Bab 3
  5. Pertanyaan umum

Accidental sampling, juga disebut incidental sampling atau convenience sampling, adalah teknik memilih responden yang kebetulan ditemui dan bersedia, asalkan termasuk populasi penelitian. Contohnya mewawancarai pengunjung pusat perbelanjaan pada hari tertentu, atau menyebar kuesioner online lewat grup media sosial dan menerima siapa saja yang mengisi.

Teknik ini termasuk non-probability sampling: tidak ada pengacakan, sehingga tidak setiap anggota populasi punya peluang yang sama untuk terpilih.

Kapan accidental sampling masih bisa diterima

  • Tidak ada daftar populasi, misalnya "konsumen produk X" atau "pengguna transportasi umum".
  • Penelitian bersifat penjajakan atau uji coba instrumen.
  • Waktu dan biaya sangat terbatas, dan keterbatasan ini dituliskan dengan jujur.

Bila daftar populasi tersedia, simple random sampling atau stratified random sampling lebih kuat.

Bias yang perlu diwaspadai

Orang yang mudah ditemui atau bersedia mengisi sering berbeda dari populasi secara keseluruhan:

  • Pengunjung pada jam kerja berbeda dengan pengunjung akhir pekan.
  • Pengisi survei online cenderung lebih muda dan lebih sering memakai internet.
  • Orang yang sangat puas atau sangat kecewa lebih bersemangat mengisi survei kepuasan.

Cara mengurangi biasnya

  1. Tetapkan kriteria responden yang jelas, misalnya pernah membeli produk X dalam tiga bulan terakhir.
  2. Pasang pertanyaan penyaring di awal kuesioner, lalu keluarkan jawaban yang tidak memenuhi kriteria.
  3. Ragamkan lokasi, hari, dan jam pengumpulan data, atau sebar tautan lewat beberapa saluran yang berbeda.
  4. Bandingkan profil responden (jenis kelamin, usia, dsb.) dengan data populasi bila ada, dan bahas perbedaannya.
  5. Tuliskan keterbatasannya di Bab 3 dan Bab 5.

Jumlah sampel tetap bisa dihitung, misalnya dengan rumus Lemeshow bila populasinya tidak diketahui. Lihat cara menentukan jumlah sampel.

Contoh kalimat Bab 3

Karena tidak tersedia daftar populasi konsumen, sampel diambil dengan teknik accidental sampling, yaitu konsumen yang kebetulan ditemui di gerai X dan bersedia mengisi kuesioner. Responden harus memenuhi kriteria telah membeli produk X minimal satu kali dalam tiga bulan terakhir, yang diperiksa melalui pertanyaan penyaring. Data dikumpulkan pada hari kerja dan akhir pekan untuk mengurangi bias waktu. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Lemeshow sebanyak 97 responden.

Angka di atas hanya ilustrasi. Bandingkan dengan purposive sampling bila kriteria respondennya sangat khusus.

Pertanyaan umum

Apakah survei Google Form yang disebar di media sosial termasuk accidental sampling?

Ya, umumnya begitu, karena yang mengisi adalah orang yang kebetulan melihat tautan dan bersedia. Bila tautan hanya dikirim kepada orang yang memenuhi kriteria tertentu, teknik itu lebih dekat ke purposive sampling.

Apakah hasil penelitian dengan accidental sampling tidak sah?

Tetap sah sebagai temuan pada responden yang diteliti. Yang perlu dibatasi adalah klaim generalisasinya. Tuliskan di keterbatasan penelitian bahwa sampel tidak dipilih secara acak.

Apa beda accidental dan purposive sampling?

Purposive memilih berdasarkan kriteria khusus yang ditetapkan lebih dulu dan berkaitan dengan tujuan penelitian. Accidental memilih siapa saja yang kebetulan ditemui, dengan syarat minimal termasuk populasi.

Panduan terkait