Daftar isi
Coding (pengodean) adalah langkah inti analisis data kualitatif: membaca transkrip wawancara, catatan lapangan, atau dokumen, lalu memberi label singkat pada setiap potongan yang bermakna. Label itu disebut kode. Dari kode-kode inilah kategori, tema, dan akhirnya jawaban rumusan masalah dibangun.
Coding dipakai di hampir semua pendekatan kualitatif: model interaktif di analisis data kualitatif, analisis tematik, dan pengodean terbuka-aksial-selektif di grounded theory.
Dua siklus coding
Johnny Saldaña (2016) membedakan dua siklus:
- Siklus pertama: memberi kode awal pada data, potongan demi potongan. Kodenya masih dekat dengan kata-kata informan.
- Siklus kedua: mengelompokkan, membandingkan, dan menyaring kode siklus pertama menjadi kategori dan tema.
Jenis kode siklus pertama yang sering dipakai
| Jenis | Isi | Contoh |
|---|---|---|
| Deskriptif | topik potongan data, berupa kata benda | "jadwal literasi" |
| In vivo | kata atau frasa informan sendiri, diberi tanda petik | "anak-anak sudah nunggu bel" |
| Proses | tindakan atau kegiatan, berupa kata kerja (umumnya bentuk me-) | "menyesuaikan bacaan" |
| Nilai | nilai, sikap, atau keyakinan informan | "membaca sebagai kebiasaan" |
| Emosi | perasaan yang diungkapkan | "khawatir dinilai" |
Pilih satu atau dua jenis yang paling sesuai dengan pertanyaan penelitianmu, lalu sebutkan di Bab 3.
Contoh coding transkrip
Potongan wawancara dengan guru tentang program literasi pagi (rekaan)
| Potongan transkrip | Kode siklus pertama |
|---|---|
| "Awalnya anak-anak pada main HP waktu jam literasi, jadi kami bikin aturan HP dikumpulkan dulu." | aturan pengumpulan HP; masalah awal: distraksi |
| "Bukunya kami pilih yang tipis-tipis dulu, cerita bergambar, biar mereka nggak takut." | menyesuaikan bacaan; mengurangi rasa takut membaca |
| "Sekarang anak-anak sudah nunggu bel, langsung ambil buku sendiri." | "sudah nunggu bel"; kebiasaan terbentuk |
| "Kendalanya ya bukunya itu-itu saja, perpustakaan kami kecil." | keterbatasan koleksi |
| "Saya juga ikut baca di depan, kalau gurunya baca anak-anak ikut." | guru sebagai teladan |
Di siklus kedua, kode-kode itu bisa dikelompokkan menjadi kategori:
- Strategi awal: aturan pengumpulan HP, menyesuaikan bacaan, mengurangi rasa takut membaca, guru sebagai teladan.
- Perubahan perilaku: "sudah nunggu bel", kebiasaan terbentuk.
- Hambatan: distraksi, keterbatasan koleksi.
Kategori-kategori ini lalu dirumuskan menjadi tema, misalnya "Kebiasaan membaca terbentuk melalui penyesuaian bertahap dan keteladanan guru, meskipun dibatasi koleksi buku".
Transkrip di atas rekaan untuk latihan.
Codebook
Codebook (buku kode) adalah daftar semua kode beserta aturannya. Struktur yang dianjurkan Kathleen MacQueen dan rekan (1998) untuk penelitian tim:
| Kolom | Isi |
|---|---|
| Nama kode | label singkat |
| Definisi | arti kode dalam satu atau dua kalimat |
| Kapan dipakai | ciri potongan yang masuk kode ini |
| Kapan tidak dipakai | ciri potongan yang mirip tetapi masuk kode lain |
| Contoh | satu kutipan nyata dari data |
Codebook dibuat bertahap: mulai dari kode yang muncul di beberapa transkrip pertama, lalu diperbarui setiap kali definisinya perlu dipertajam. Simpan versi lamanya sebagai bagian jejak audit (lihat keabsahan data).
Kesepakatan antarpengode
Bila ada dua pengode (misalnya peneliti dan teman sejawat), sebagian transkrip bisa dikodekan berdua secara terpisah lalu dibandingkan. Ketidaksepakatan didiskusikan untuk mempertajam codebook. Kesepakatan bisa dilaporkan sebagai persentase atau dengan koefisien kappa dari Jacob Cohen (1960). Untuk skripsi perorangan, pemeriksaan sejawat (peer debriefing) sudah cukup sebagai bentuk pemeriksaan.
Alat bantu
| Alat | Biaya | Catatan |
|---|---|---|
| Spreadsheet atau tabel dokumen | gratis | satu baris per potongan, kolom transkrip, kode, kategori |
| Taguette | gratis, sumber terbuka | sederhana, bisa dipakai lewat browser |
| QualCoder | gratis, sumber terbuka | lebih lengkap, termasuk audio dan gambar |
| QDA Miner Lite | gratis | versi ringan dari perangkat lunak berbayar |
| NVivo, ATLAS.ti, MAXQDA | berbayar | banyak tersedia lewat lisensi kampus |
Menyajikan hasil coding di skripsi
- Bab 3: jenis kode yang dipakai, siapa yang mengode, alat bantu, dan cara menjaga konsistensi.
- Bab 4: jangan menampilkan seluruh tabel kode di badan teks. Sajikan tema dan kategori, masing-masing dengan kutipan informan yang mewakili, misalnya dengan kode informan (G1, S3). Tabel kode lengkap dan codebook masuk lampiran.
Kesalahan umum
- Kode terlalu umum, misalnya "literasi" untuk hampir semua potongan.
- Langsung membuat tema tanpa siklus pengodean, sehingga tema tidak berakar pada data.
- Kode berubah arti di tengah jalan tanpa codebook.
- Bab 4 hanya berisi kutipan panjang tanpa tafsiran peneliti.
- Menyebut perangkat lunak sebagai metode analisis, misalnya "data dianalisis dengan NVivo". Perangkat lunak hanya alat; metodenya tetap perlu dijelaskan.
Pertanyaan umum
Berapa banyak kode yang wajar?
Siklus pertama bisa menghasilkan puluhan sampai ratusan kode untuk beberapa transkrip. Itu wajar. Di siklus kedua kode-kode itu disatukan menjadi belasan kategori dan beberapa tema yang menjawab rumusan masalah.
Apakah coding harus memakai software?
Tidak. Untuk skripsi dengan beberapa transkrip, tabel di spreadsheet atau dokumen sudah cukup. Software gratis seperti Taguette atau QualCoder membantu bila datanya banyak, tetapi tidak menggantikan proses berpikir dalam menentukan kode.
Apa beda kode, kategori, dan tema?
Kode adalah label untuk satu potongan data. Kategori adalah kelompok kode yang serupa. Tema adalah pernyataan makna yang lebih luas yang menjawab pertanyaan penelitian, biasanya dibangun dari beberapa kategori.