Daftar isi
Systematic literature review (SLR) adalah studi literatur yang dilakukan dengan prosedur ketat dan terdokumentasi. Bedanya dengan tinjauan naratif terletak pada transparansi: kata kunci, basis data, kriteria, dan jumlah artikel di setiap tahap dilaporkan, sehingga orang lain bisa mengulang dan memeriksa prosesnya.
Langkah SLR
- Merumuskan pertanyaan penelitian.
- Menyusun protokol: basis data, kata kunci, kriteria inklusi dan eksklusi.
- Mencari artikel dan mencatat hasilnya.
- Menyaring judul dan abstrak, lalu teks lengkap.
- Menilai kualitas artikel yang lolos.
- Mengekstraksi data ke tabel.
- Menyintesis temuan dan melaporkannya dengan diagram PRISMA.
1. Merumuskan pertanyaan dengan PICO
Untuk pertanyaan tentang pengaruh suatu intervensi, kerangka PICO membantu membuat pertanyaan yang spesifik:
| Unsur | Arti | Contoh |
|---|---|---|
| P (population) | Subjek | Siswa SMP |
| I (intervention) | Perlakuan atau fokus | Gamifikasi |
| C (comparison) | Pembanding | Pembelajaran konvensional |
| O (outcome) | Hasil | Motivasi dan hasil belajar matematika |
Pertanyaannya menjadi: "Bagaimana pengaruh gamifikasi dibandingkan pembelajaran konvensional terhadap motivasi dan hasil belajar matematika siswa SMP?" Untuk pertanyaan kualitatif, sebagian peneliti memakai kerangka lain seperti SPIDER.
2. Strategi pencarian
Gabungkan kata kunci dengan operator Boolean:
- AND mempersempit: kedua istilah harus muncul.
- OR memperluas: salah satu istilah cukup (dipakai untuk sinonim).
- Tanda kutip mencari frasa utuh.
Contoh string pencarian
("gamification" OR "gamifikasi") AND ("mathematics" OR "matematika") AND ("junior high school" OR "SMP")
Catat untuk setiap basis data: string yang dipakai, tanggal pencarian, filter (tahun, bahasa), dan jumlah hasilnya. Catatan ini menjadi bahan Bab 3 dan diagram PRISMA.
3. Kriteria inklusi dan eksklusi
| Inklusi (dimasukkan) | Eksklusi (dikeluarkan) |
|---|---|
| Artikel jurnal atau prosiding bertelaah sejawat | Opini, editorial, skripsi yang tidak terbit |
| Terbit 2015–2025 | Di luar rentang tahun |
| Subjek siswa SMP atau sederajat | Subjek mahasiswa atau SD |
| Melaporkan data hasil belajar atau motivasi | Tidak melaporkan hasil yang relevan |
| Teks lengkap dapat diakses | Teks lengkap tidak tersedia |
Kriteria di atas hanya contoh; sesuaikan dengan pertanyaanmu dan tetapkan sebelum penyaringan.
4. Penyaringan dan diagram PRISMA
PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) adalah pedoman pelaporan tinjauan sistematis. Versi pertamanya terbit tahun 2009 dan diperbarui menjadi PRISMA 2020 oleh Matthew Page dan rekan (2021). Bagian yang paling dikenal adalah diagram alir yang mencatat jumlah artikel di setiap tahap.
Contoh angka di diagram alir (ilustrasi)
| Tahap | Keterangan | Jumlah |
|---|---|---|
| Identifikasi | Artikel dari semua basis data | 412 |
| Duplikat dihapus | 87 | |
| Penyaringan | Judul dan abstrak disaring | 325 |
| Dikeluarkan karena tidak relevan | 241 | |
| Teks lengkap dinilai | 84 | |
| Dikeluarkan dengan alasan (subjek berbeda 31, tanpa data hasil 18, tidak dapat diakses 7) | 56 | |
| Termasuk | Artikel yang disintesis | 28 |
Pastikan angkanya konsisten: setiap tahap sama dengan tahap sebelumnya dikurangi yang dikeluarkan. Templat diagram resmi bisa diunduh dari situs PRISMA. Bila memungkinkan, penyaringan dilakukan dua orang secara terpisah, lalu perbedaannya didiskusikan.
5. Menilai kualitas
Artikel yang lolos dinilai kualitas metodologinya dengan daftar periksa (checklist) yang sesuai jenis penelitiannya, misalnya CASP atau daftar periksa JBI. Hasil penilaian dipakai untuk menimbang bobot temuan, atau untuk mengeluarkan artikel yang kualitasnya sangat rendah.
6. Ekstraksi data
Buat tabel ekstraksi dengan kolom yang sama untuk semua artikel: penulis dan tahun, negara, desain, subjek, intervensi, ukuran hasil, dan temuan utama. Tabel ini biasanya dimuat di Bab 4 atau lampiran.
7. Sintesis
- Sintesis naratif atau tematik: temuan dikelompokkan per tema, lalu dibandingkan.
- Meta-analisis: bila banyak artikel kuantitatif melaporkan ukuran yang sebanding, ukuran efeknya bisa digabung secara statistik.
Tulis hasil per tema dan bahas pola, perbedaan, serta celah penelitian yang tersisa.
Alat bantu gratis
- Zotero untuk mengelola sumber dan menghapus duplikat.
- Spreadsheet (Google Sheets atau LibreOffice Calc) untuk log pencarian, penyaringan, dan tabel ekstraksi.
- Templat diagram PRISMA dari situs resminya.
- Pembuat daftar pustaka APA untuk menyusun daftar pustaka dari DOI.
Kesalahan umum
- Kriteria inklusi-eksklusi dibuat setelah melihat artikel.
- Angka di diagram PRISMA tidak konsisten.
- Tidak mencatat tanggal dan string pencarian, sehingga pencarian tidak bisa diulang.
- Hasil ditulis per artikel, bukan per tema.
Pertanyaan umum
Apa beda SLR dan studi literatur biasa?
Pada studi literatur naratif, peneliti memilih sumber dengan pertimbangannya sendiri. Pada SLR, setiap keputusan (kata kunci, basis data, kriteria, jumlah artikel di setiap tahap) ditetapkan dan dilaporkan, sehingga orang lain bisa mengulang pencariannya dan mendapat kumpulan artikel yang sama.
Apakah SLR harus memakai Scopus?
Tidak harus. Gunakan basis data yang relevan dan bisa kamu akses, misalnya Google Scholar, Garuda, DOAJ, atau portal jurnal internasional yang dilanggan kampus. Sebutkan semuanya di Bab 3 beserta tanggal pencarian.
Berapa artikel yang ideal dalam SLR?
Tidak ada angka ideal. Jumlah akhir mengikuti hasil penyaringan. SLR skripsi sering berakhir dengan belasan sampai beberapa puluh artikel. Yang penting setiap tahap penyaringan dilaporkan jujur.