Metodologi

Uji Normalitas

Jawaban singkat

Uji normalitas memeriksa apakah data atau residual berdistribusi normal, yang menjadi syarat uji t, ANOVA, korelasi Pearson, dan regresi linear. Di SPSS, data dinyatakan normal bila nilai Sig. pada uji Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro-Wilk lebih besar dari 0,05. Shapiro-Wilk umumnya lebih peka untuk sampel kecil.

Diperbarui 11 Oktober 2026Tim Metodologi
Daftar isi
  1. Data apa yang diuji?
  2. Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk
  3. Langkah di SPSS
  4. Jangan hanya melihat angka Sig.
  5. Bila data tidak normal
  6. Kesalahan umum
  7. Pertanyaan umum

Uji normalitas memeriksa apakah data mengikuti distribusi normal, yaitu sebaran berbentuk lonceng yang simetris. Normalitas adalah asumsi uji parametrik seperti uji t, ANOVA, korelasi Pearson, dan regresi linear. Lihat juga peta uji asumsi.

Data apa yang diuji?

AnalisisYang diuji normalitasnya
Uji t sampel independen, ANOVAData setiap kelompok, masing-masing
Uji t berpasanganSelisih nilai sesudah dan sebelum
Korelasi PearsonSetiap variabel
Regresi linearResidual model regresi

Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk

Kedua uji punya H₀ yang sama: data berdistribusi normal. Karena itu yang diharapkan adalah hasil yang tidak signifikan.

  • Sig. > 0,05: H₀ diterima, data berdistribusi normal.
  • Sig. ≤ 0,05: H₀ ditolak, data tidak berdistribusi normal.

Shapiro-Wilk umumnya lebih kuat mendeteksi ketidaknormalan, sehingga sering dianjurkan untuk sampel kecil. Kolmogorov-Smirnov di tabel Tests of Normality SPSS sudah memakai koreksi Lilliefors.

Langkah di SPSS

  1. Buka Analyze → Descriptive Statistics → Explore.
  2. Masukkan variabel ke kotak Dependent List. Untuk data per kelompok, masukkan variabel kelompok ke Factor List.
  3. Klik Plots, centang Normality plots with tests, lalu Continue dan OK.
  4. Baca tabel Tests of Normality, kolom Sig. untuk Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk.

Untuk regresi, simpan residual terlebih dahulu (Analyze → Regression → Linear → Save → Unstandardized residuals), lalu uji variabel residual itu dengan langkah yang sama.

Contoh membaca hasil

Tabel Tests of Normality untuk nilai posttest kelas eksperimen menunjukkan Shapiro-Wilk Sig. = 0,214. Karena 0,214 > 0,05, data posttest kelas eksperimen berdistribusi normal.

Jangan hanya melihat angka Sig.

  • Q-Q plot: titik yang mengikuti garis diagonal menunjukkan data mendekati normal.
  • Histogram: bentuknya mendekati lonceng dan tidak terlalu miring.
  • Skewness dan kurtosis: nilai yang jauh dari 0 menunjukkan kemiringan atau keruncingan.

Pada sampel besar, uji normalitas sering signifikan karena penyimpangan yang sangat kecil. Pada sampel sangat kecil, uji ini sering tidak mampu mendeteksi ketidaknormalan. Grafik membantu menilai keduanya.

Bila data tidak normal

Lihat cara mengatasi data tidak normal: periksa pencilan, pertimbangkan transformasi, atau pakai uji nonparametrik.

Kesalahan umum

  • Menguji normalitas setiap variabel bebas dalam regresi, padahal yang diuji residual.
  • Menguji gabungan dua kelompok sekaligus pada uji t independen.
  • Menyebut "data normal karena Sig. kurang dari 0,05".
  • Langsung mentransformasi data tanpa memeriksa salah input dan pencilan.

Pertanyaan umum

Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro-Wilk?

Keduanya muncul di tabel Tests of Normality SPSS. Shapiro-Wilk umumnya lebih kuat mendeteksi ketidaknormalan, terutama pada sampel kecil, dan banyak dianjurkan untuk n sampai sekitar 50. Tulis uji yang kamu pakai dan pakai secara konsisten.

Yang diuji data mentah atau residual?

Untuk uji t dan ANOVA, yang diuji adalah data setiap kelompok. Untuk regresi linear, yang diuji adalah residual (sisaan) model, bukan masing-masing variabel.

Sampel besar selalu tidak normal, kenapa?

Dengan sampel besar, uji normalitas menjadi sangat peka sehingga penyimpangan kecil pun signifikan. Untuk sampel besar, lihat juga grafik Q-Q plot dan nilai skewness serta kurtosis, dan ingat bahwa uji t dan regresi cukup tahan terhadap ketidaknormalan ringan pada sampel besar.